Cara Menghitung dan Contoh Penyusutan Gedung

Pada setiap periode aktiva tetap memiliki nilai yang semakin berkurang sehingga nilainya akan turun setelah beberapa lama. Nilai aktiva ini semakin berkurang karena pemakaian aktiva sehingga terjadi penyusutan aktiva tetap. Penyusutan ini nantinya adalah pengalokasian harga perolehan dari suatu aktiva tetap karena adanya penurunan nilai aktiva tersebut.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyusutan

Penyusutan ini dalam dunia akuntansi bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, sehingga nantinya biaya penyusutan bisa dihitung secara pasti untuk menentukan nilai aktiva secara pasti. Beberapa faktor yang mempengaruhi biaya penyusutan antara lain:

  • Harga Perolehan

Harga perolehan dianggap sebagai dasar untuk menghitung seberapa besar depresiasi yang dialokasikan pada setiap periode akuntansi. Harga perolehan (Acquisition Cost) ini didapatkan dari sejumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva mulai dari awal hingga siap untuk digunakan.

  • Nilai Residu

Nilai residu adalah perkiraan atau potensi arus kas bila nantinya aktiva tersebut dijual saat penarikan atau penghentian aktiva. Nilai ini tidak selalu ada pada setiap aktiva karena tidak dijual atau dijadikan benda tak pakai lagi. Meski seharusnya nilai residu ini ditetapkan untuk aktiva yang bisa didaur ulang atau memiliki nilai untuk dijual kembali.

  • Umur Ekonomis Aktiva

Umur Ekonomis Aktiva bisa dibedakan menjadi umur fisik dan juga umur fungsional. Umur fisik dikaitkan dengan kondisi fisik yang bisa dilihat kondisinya apakah cukup baik meski secara fungsi tidak lagi optimal. Sedangkan umur fungsional akan dikaitkan dengan kegunaan aktiva sesuai dengan fungsinya. Meski fisiknya tidak dalam kondisi baik tapi mampu memberikan kontribusi bagi perusahaan, maka umur fungsinya masih dalam keadaan prima.

  • Penghitungan Nilai Penyusutan

Dalam penerapannya, nilai penyusutan aktiva bisa dihitung dengan Metode Garis Lurus untuk aktiva berupa bangunan dan benda berwujud. Hal ini tertuang dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang PPh.

Metode penyusutan ini boleh digunakan oleh wajib pajak dan wajib pajak orang pribadi. Metode garis lurus ini dilakukan pada bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaatnya sudah ditentukan oleh harta tersebut.

Metode ini adalah metode yang paling familiar dan sering digunakan oleh perusahaan untuk menghitung penyusutan. Dari aktiva fungsional yang tidak terpengaruh dengan volume produk dan jasa yang dihasilkannya. Ini berkaitan dengan penerapan Matching Cost Principle yang dianut oleh kebanyakan perusahaan untuk menjaga asetnya dari penyusutan tak terkendali.

Lalu bagaimana cara menghitung dan contoh penyusutan gedung?

Dalam hal ini gedung termasuk dalam aktiva tetap berwujud, sehingga penghitungannya hanya menerapkan metode garis lurus. Metode garis lurus mendasarkan pada alokasi dari fungsi dan waktu penggunaan aset.

Berikut ini contoh penghitungan penyusutan gedung dengan metode garis lurus:

Jika sebuah gedung kantor dibuat dengan mengeluarkan dana senilai Rp. 2.000.000.000,-(Dua Miliar Rupiah) dan digunakan selama 20 tahun, maka nilai penyusutan dari gedung tersebut bisa dihitung dengan cara sebagai berikut:

Nilai gedung: masa manfaat=nilai penyusutan

Rp.2.000.000,-:20=Rp.100.000.000,-(Seratus Juta Rupiah).

Penggunaan metode garis lurus ini hanya bisa digunakan untuk menghitung nilai penyusutan dari harta tetap berwujud, sedangkan harga tidak berwujud selain bangunan bisa dihitung dengan metode saldo menurun Declining Balance Method).

Contoh lain penghitungan penyusutan gedung dengan metode garis lurus

Sebuah perusahaan PT. Makmur Abadi pada bulan Juli 2010 membeli seperangkat alat berat yang mempunyai masa manfaat 4 tahun seharga sebesar Rp 2.000.000. Penghitungan penyusutan atas harta tersebut adalah sebagai berikut:

Penyusutan tahun 2010: 7/12 x 25%  Rp 2.000.000 = Rp 250.000
Penyusutan tahun 2011: 25% x Rp 2.000.000 = Rp500.000
Penyusutan tahun 1012: 25% x Rp 2.000.000 = Rp 500.000
Penyusutan tahun 1013: 25% x Rp 2.000.000 = Rp 500.000
Penyusutan tahun 1014: Sisanya disusutkan sekaligus = Rp 250.000

Nilai penyusutan merupakan salah satu resiko dari penggunaan aktiva tetap yang akan mengalami penyusutan fungsi dan nilai. Dengan adanya manajemen aktiva ini, diharapkan perusahaan mampu melakukan peninjauan dan pemantauan terhadap penyusutan dari aset yang dimiliki sehingga mampu menjaga nilai aset jangka panjang.

Jadi dapat disimpulkan bahwa gedung merupakan aktiva tetap berwujud dimana metode penghitungan penyusutannya hanya menggunakan metode garis lurus saja. Hanya alokasi dari fungsi dan waktu penggunaan aset saja yang menjadi dasarnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Jangan lupa share di sosial media Anda agar teman Anda mendapatkan manfaatnya. Karena sebaik–baik nya ilmu adalah berbagi.
Salam Let’s #beefree

Sebarkan manfaatnya :