Contoh Perhitungan PPh 23

Anda pasti sudah sering mendengar tentang keberagaman negara Indonesia yaitu negara yang gemah, ripah, loh jinawi atau dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Keberagaman ini menjadikan profesi masyarakat Indonesia sangat beragam. Mentaati aturan pemerintah merupakan kewajiban kita bersama.

Salah satunya kewajiban untuk membayar pajak penghasilan (PPh) dari penghasilan yang diterima perseorangan atau perusahaan. Menurut undang-undang perpajakan, pajak penghasilan dibagi menjadi PPh Pasal 21, 22, 23, 24, 25, dan 29. Artikel ini akan membahas mengenai contoh perhitungan PPh 23.

Pasal PPh 23

PPh pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan selain penghasilan yang telah dipotong pada PPh pasal 21. Biasanya hal ini terjadi diantara dua pihak yang berlaku sebagai penjual atau penerima penghasilan.

Pihak yang memberi jasa atau penghasilan akan dikenakan PPh Pasal 23 sementara pihak yang menerima penghasilan atau pembeli akan memotong dan melaporkannya pada kantor pajak.

Siapakah yang menentukan pemotongan PPh Pasal 23?

Perhatikan daftar dibawah ini!

  1. Badan Pemerintah
  2. Subjek Pajak Badan dalam negeri
  3. Penyelenggaraan Kegiatan
  4. Bentuk Usaha Tetap
  5. Perwakilan Perusahaan luar negeri lainnya
  6. Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri yang ditunjuk oleh Direktorat Pajak sesuai dengan KEP-50/PJ/1994, diantaranya:
  • Akuntan, arsitek, dokter, notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah, kecuali camat, pengacara serta konsultan.
  • Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan atau pembayaran berupa uang sewa.

Selanjutnya, siapakah penerima penghasilan yang terkena potongan PPh 23?

  1. Wajib Pajak dalam negeri. Dalam hal ini semua masyarakat baik individu maupun badan perusahaan.
  2. Bentuk Usaha Tetap

Penghasilan yang dikenakan PPh Pasal 23

  1. Dividen
  2. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan atas jasa pengembalian utang
  3. Royalti
  4. Hadiah, penghargaan, bonus yang telah dilakukan pemotongan pajak penghasilan

Perhitungan PPh Pasal 23

Sebelum membahas pada perhitungan PPh Pasal 23 terlebih dahulu kita harus tahu tarif serta objek PPh Pasal 23. Di dalam PPh Pasal 23 terdapt dua janeis tarif yang diberlakukan yaitu 15% dan 2% tergantung dari objek pajaknya. Berikut adlah tarif dan objek PPh Pasal 23:

  • Dikenakan 15% dari jumlah bruto atas :
  1. Dividen kecuali pembagian dividen kepada orang pribadi dikenakan final, bunga, dan royalty.
  2. Hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh Pasal 21.
  • Dikenakna 2% dari jumlah bruto atsa sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah atau bangunan.
  • Dikenakan 2% dari bruto atas imbalan jasa teknik, jasa manajemen, jasa kontruksi, dan jasa konsultan.
  • Dikenakan 2% dari jumlah bruto atas imbalan jasa lainnya, misalkan :
  1. Jasa penilai
  2. Jasa aktuaris
  3. Jasa akuntansi, pembukaan dan atestasi laporan keuangan
  4. Jasa perancang
  5. Jasa pengeboran di bidang migas kecuali yang dilakukan BUT
  6. Jasa penunjang di bidang penambangan migas
  7. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas
  8. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara
  9. Jasa penebangan hutan.

Maksud dari jumlah bruto adalah seluruh jumlah penghasilan yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh pemerintah, objek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan atau pengusaha. Selanjutnya, contoh agar perhitungan pajak PPh lebih mudah dipahami, perhatikan ilustrasi berikut ini:

PT Sehati Jaya adalah perusahan yang bergerak di bidang penerbitan buku dan percetakan. Perusahaan ini melakukan sejumlah pembayaran yang terkait dengan PPh Pasal 23 kepada beberapa pihak dengan rincian:

  1. Pembayaran royalti 3 orang penulis : Rizky Nastiti Amelia NPWP 01.555.999.3.898.000, Anto Lesmana NPWP 01.555.676.3.976.000, dan Ridwan Kurniawan NPWP 01.555.656.3.876.000. Royalti yang diberikan masing- masing mendapatkan 10.000.000,-
  2. Pembayaran bunga pinjaman kepada BJB dengan NPWP 03.111.222.2.543.000 untuk bulan Oktober sebesar 2.000.000,-

Sehingga perhitungan PPh PT Sehati Jaya adalah

  • Untuk pembayaran royalty
  1. Rizky 15% x Rp.10.000.000,- = Rp.1.500.000,-
  2. Anto 15% x Rp.10.000.000,- = Rp.1.500.000,-
  3. Ridwan 15% x Rp.10.000.000,- = Rp.1.500.000,-

Setelah melakukan pemotongan PPh Pasal 23 maka penulis akan mendapatkan hasil bukti pemotongan

  • Untuk pembayaran atas Bungan pinjaman pada BJB, tidak dikenakan PPh Pasal 23. Sebab termasuk penghasilan yang dibayarkan atau terutang kepada bank dan merupakan pengecualian terhadap PPh Pasal 23.

Sekian artikel saya kali ini, semoga dapat bermanfaat untuk membantu Anda memahami terkait PPh Pasal 23. Jika artikel ini bermanfaat mohon bantu share ke teman-teman Anda ya Salam Let’s #beefree

Sebarkan manfaatnya :