Karyawan Tidak Meninggalkan Perusahaan, Mereka Meninggalkan Manajernya

Dalam dunia kerja, kerapkali terdengar karyawan yang sebenarnya sangat profesional dan berdedikasi memilih untuk mundur dari perusahaan dan berkarir di tempat lain. Padahal etos kerja dan semangatnya yang bagus sangat dibutuhkan oleh perusahaan.

Yang terkena dampak langsung dari ‘kaburnya’ karyawan adalah manajer, karena mereka tidak mungkin bisa mendapatkan karyawan baru secepat itu untuk menggantikan karyawan yang resign. Padahal pekerjaan sedang menumpuk dan dibutuhkan karyawan yang tanggap untuk menyelesaikannya.

Dan dalam hal ini, manajer yang menjadi atasan langsung dari karyawan akan menyalahkan perusahaan. Perusahaan dianggap menjadi penyebab keluarnya karyawan karena tidak betah dan tidak nyaman lagi berada di perusahaan tersebut.

Padahal jika dikaji lagi, sebenarnya karyawan tidak meninggalkan perusahaan, melainkan meninggalkan manajernya. Ada banyak kesalahan yang mungkin dilakukan oleh manajer selaku pihak yang berhubungan langsung dengan karyawan, yang membuat karyawan tidak lagi nyaman bekerja disana.

Manajer bisa introspeksi diri kira-kira apa kesalahan yang ada pada dirinya sehingga menyebabkan karyawan meninggalkannya. Dengan mengetahui kesalahan sejak dini, fenomena karyawan ‘kabur’ di tengah jalan bisa diminimalisir.

Lalu kesalahan apa yang dilakukan manajer sehingga membuat karyawan keluar dari perusahaan?

5 Sifat Manajer Yang Membuat Karyawan Resign 

1. Memaksa Karyawan Untuk Lembur

Salah satu kesalahan manajer yang kerap terjadi adalah memaksa karyawan untuk lembur tanpa melihat kondisi dan sikon yang ada. Saat ada tumpukan pekerjaan, yang dipikirkan manajer adalah bagaimana cara membuat tumpukan pekerjaan tersebut selesai dalam waktu sekejap. Dan lembur menjadi pilihan utama untuk menyelesaikannya.

Padahal lembur bisa membuat karyawan menjadi tertekan dan terbebani. Perintah lembur juga membuat karyawan semakin tidak produktif. Alih-alih memaksa karyawan lembur, lebih baik naikkan jabatan karyawan tersebut yang secara otomatis membuat si karyawan memiliki beban kerja yang lebih tinggi. Cara ini lebih membuat karyawan merasa dihargai ketimbang diperintahkan untuk lembur tanpa kompensasi.

2. Tidak Memberikan Reward Atas Prestasi Karyawan

Reward atau penghargaan sangat penting bagi seorang karyawan. Mereka akan termotivasi untuk lebih giat lagi dalam bekerja sehingga menimbulkan dampak posotif bagi perusahaan. Sayangnya, banyak manajer yang kurang memperhatikan hal ini.

Karyawan yang memiliki etos kerja jarang dihargai, apalagi sampai diberi reward. Inilah yang membuat para manajer kerap kehilangan karyawan terbaiknya.

3. Kurang Mempedulikan Karyawan

Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh manajer adalah mereka kurang mempedulikan karyawannya. Karyawan dipandang sebagai alat untuk produktif saja, bukan sebagai manusia. Alhasil, rasa empati terhadap karyawan kurang diasah.

Bisa bayangkan waktu 8 jam dalam sehari dihabiskan bersama orang yang tidak punya empati? Tentu tidak menyenangkan bukan? Inilah yang membuat karyawan meninggalkan pekerjaan ketimbang bertahan di tempat yang tidak nyaman.

4. Tidak Memberi Kesempatan Untuk Berkembang

Manajer juga sering tidak memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berkembang dan mengerjakan hal-hal yang disukainya. Passion dianggap sesuatu yang menghambat produktivitas pekerjaan, padahal passion dan sesuatu yang disukai ini justru yang membuat karyawan main produktif.

Manajer sering melarang karyawan mengejar passion dan mengembangkan diri, maka tak heran jika karyawan meninggalkan manajernya.

5. Tidak Bisa Memberi Arahan Dan Tantangan Yang Tepat

Perintah tanpa arahan yang jelas tentu akan membuat karyawan bingung. Manajer tidak menjelaskan bagaimana cara mencapai target, ia hanya menekan karyawan untuk bisa mencapai target tertentu tanpa arahan apapun.

Selain itu, manajer yang tidak memberikan motivasi karyawan untuk keluar dari zona nyaman juga menjadi salah satu kesalahan umum yang dilakukan oleh manajer yang membuat karyawan resign.

Jadi bisa disimpulkan bahwa untuk kasus karyawan yang resign dari perusahaan bukan berarti ia meninggalkan perusahaan, namun ia meninggalkan manajernya yang tidak bisa memberikan pengayoman dan arahan supaya lebih produktif. Kesalahan ada pada manajer, bukan perusahaan.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Jangan lupa share disosial media Anda agar Anda mendapatkan manfaatnya. Karena sebaik –baik nya ilmu adalah berbagi.

Salam Let’s #beefree

Sebarkan manfaatnya :