Panduan Cara Menghitung Pajak Penghasilan (PPh) Lengkap

Masih bingung menghitung Pajak?

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atas penghasilan yang diterimanya dalam masa tahun pajak. Pengetahuan tentang cara menghitung pajak penghasilan ini berguna untuk wajib pajak dalam proses pelaporan pajak.

Meski setiap tahunnya wajib pajak membayar dan melaporkan pajak, masih banyak wajib pajak yang tidak efisien dalam tata cara menghitung pajak penghasilan. Atau bahkan malah ada yang masih belum bisa menghitung pajak.

Kenapa Pengusaha Harus Bayar Pajak?

Adapun beberapa orang masih ada yang belum paham, kenapa pengusaha harus membayar dan melapor pajak?

Membantu Kesehjahteraan Masyarakat

Dengan membayar pajak, Anda turut ikut serta dalam mensejahterakan masyarakat di Indonesia. Banyak masyarakat yang masih belum sejahtera, dan mereka harus dibantu dengan pajak. Serta uang pajak yang sudah dibayar oleh para pengusaha dapat membantu kehidupan masyarakat yang belum sejahtera. Seperti contohnya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

Membangun Infrastruktur

Uang pajak yang Anda bayarkan kepada Pemerintah akan dialokasikan untuk membangun infrastruktur. Tentunya ini akan sangat memudahkan pergerakan barang dan jasa, dan akan memudahkan para pengusaha dalam mengakses seluruh konsumen dengan infrastruktur yang ada.

Jika kondisi infrastruktur baik, maka pergerakan barang pun akan mudah untuk dilakukan. Inilah alasan mengapa pengusaha harus bayar pajak. Toh semuanya juga bakal kembali kepada Anda lagi.

Bisnis Anda Akan terlihat Lebih Baik

Pada umumnya para wajib pajak memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), NPWP ini akan selalu ditanyakan oleh supplier atau distributor. Kadangkala mereka menanyakan apakah Anda memiliki NPWP atau tidak. Apa jadinya, jika mereka minta NPWP, tetapi Anda bilang belum memiliki?

Pasti distributor atau supplier Anda akan beranggapan bahwa bisnis yang Anda jalankan tidak dikelola dengan baik dan profesional. Bisa saja harga diri bisnis Anda akan jatuh di mata distributor atau supplier. Maka dari itulah alasan kenapa pengusaha harus bayar pajak agar bisnis terlihat dijalankan secara baik dan profesional.

Cara Efisien Menghitung Pajak Penghasilan

Adapun berikut ini adalah cara lengkap menghitung pajak penghasilan yang wajib Anda ketahui..

Perhitungan PPh pasal 22

Pajak ini dikenakan pada badan usaha tertentu, entah itu milik pemerintah maupun swasta yang bergerak di bidang ekspor, impor, maupun re-impor atas penjualan produk yang tergolong mewah.

Tarif PPh pasal 22

  1. Atas Impor, yang menggunakan Angka Pengenal Importir (API) = 2,5% x nilai impor, Non-API = 7,5% x nilai impor, yang tidak dikuasai = 7,5% x harga jual lelang.
  2. Atas pembelian barang yang dilakukan oleh DJPB, Bendahara Pemerintah, BUMN/BUMD = 1,5% x harga pembelian (tidak termasuk PPN dan tidak final)
  3. Atas penjualan hasil produksi ditetapkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak, yaitu:
    • Kertas = 0,1% x DPP PPN (Tidak Final)
    • Semen = 0,25% x DPP PPN (Tidak Final)
    • Baja = 0,3% x DPP PPN (Tidak Final)
    • Otomotif = 0,45% x DPP PPN (Tidak Final)
  4. Atas penjualan hasil produksi atau penyerahan barang oleh produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas: Pungutan PPh Pasal 22 kepada penyalur/agen, bersifat final. Selain penyalur/agen bersifat tidak final
  5. Atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor dari pedagang pengumpul ditetapkan = 0,25% x harga pembelian (tidak termasuk PPN)
  6. Atas impor kedelai, gandum, dan tepung terigu oleh importir yang menggunakan API = 0,5% x nilai impor.
  7. Untuk yang tidak memiliki NPWP dipotong 100% lebih tinggi dari tarif PPh Pasal 22.

Perhitungan PPh pasal 23

Tarif PPh 23 merupakan tarif yang dikenakan atas penghasilan yang berasal dari modal, hadiah & penghargaan serta penyerahan jasa selain yang telah dipotong PPh 21.

Tarif PPh 23 sebesar 15%: Apabila si A menerima royalti atas hak yang digunakan sebesar Rp5.000.000, maka jumlah PPh yang harus dibayarkan adalah: 15% x Rp5.000.000 = Rp750.000.

Tarif PPh 23 sebesar 2%: Apabila badan usaha tetap B menerima jasa penerjemahan dengan jumlah bruto Rp10.000.000, maka jumlah PPh yang harus dibayarkan adalah: 2% x Rp10.000.000 yaitu Rp200.000.

Perhitungan PPh pasal 25

Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh Pasal 25) adalah pembayaran Pajak Penghasilan secara angsuran.

Tarif PPh pasal 25

  • Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WP – OPPT), yaitu yang melakukan usaha penjualan barang, baik grosir maupun eceran, serta jasa – dengan satu atau lebih tempat usaha. PPh 25 bagi OPPT = 0.75% x omzet bulanan tiap masing-masing tempat usaha.
  • Wajib Pajak Orang Pribadi Selain Pengusaha Tertentu (WP – OPSPT), yaitu pekerja bebas atau karyawan, yang tidak memiliki usaha sendiri. PPh 25 bagi OPSPT = Penghasilan Kena Pajak (PKP) x Tarif PPh 17 ayat (1) huruf a UU PPh (12 bulan).

Tarif PPh 17 ayat (1) huruf a UU PPh adalah:

  • Sampai Rp 50.000.000 = 5%
  • Rp 50.000.000 – Rp 250.000.000 = 15%
  • Rp 250.000.000 – Rp 500.000.000 = 25%
  • Di atas Rp 500.000.000 = 30%

Pembayaran angsuran PPh 25 untuk Wajib Pajak Badan yaitu = Penghasilan Kena Pajak (PKP) x 25% (Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf b UU PPh).

Perhitungan PPh pasal 26

Teruntuk Anda yang melakukan transaksi pembayaran gaji, bunga, dividen, royalti, dan sejenisanya kepada wajib pajak luar negeri, diwajibkan untuk memotong PPh 26.

Tarif PPh pasal 26

Tarif 20% (final) atas jumlah bruto yang dikenakan atas: Dividen, bunga, royalty, sewa, insentif jasa dll

Tarif 20% yang dipungut dari penghasilan kena pajak setelah dikurangi dengan pajak, suatu bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia, terkecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia.

Perhitungan PPh Pasal 29

PPh Pasal 29 merupakan PPh kurang bayar yang tercantum dalam SPT Tahunan. Pajak ini dapat terjadi ketika jumlah pajak terutang perusahaan dalam satu tahun lebih besar dari jumlah kredit pajak yang telah dipotong dan disetor.

Tarif PPh pasal 29

Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WPOP-PT) :

  • PPh 25 yang sudah dilunasi = 0.75 x jumlah penghasilan / omzet per bulan.
  • PPh 29 yang harus dilunasi = PPh yang masih terutang – PPh 25 yang sudah dilunasi.

Wajib Pajak Badan (WPB) :

  • Angsuran PPh 25 = PPh terutang tahun lalu x 12.
  • PPh 29 yang harus dilunasi = PPh yang terutang – angsuran PPh 25.

Perhitungan PPh Pasal 4 Ayat 2

PPh ini biasa disebut PPh Final yang dikenakan pada wajib pajak atas beberapa jenis penghasilan yang mereka peroleh, dan pemotongan pajaknya bersifat final.

Tarif PPh pasal 4 ayat 2

Salah satu jenis pajak yang termasuk dalam PPh Pasal 4 Ayat 2 adalah PPh Final 1 persen/pajak UKM. Dalam satu bulan, total omzet penjualan usaha Anda Rp 10.000.000. Maka pajak UKM Anda adalah Rp 10.000.000 x 0,5% = Rp 50.000.

Itulah dia cara lengkap menghitung Pajak Penghasilan dengan mudah bila Anda memahami caranya. Jika ada saran dan masukan, silahkan berikan komentar Anda dibawah 🙂

Sumber: https://www.online-pajak.com

Sebarkan manfaatnya :