Profesionalisme Akuntan Publik Sebagai Barometer Kualitas Audit

profesionalisme-akuntan-publik-sebagai-barometer-kualitas-audit-image

Tugas Seorang Akuntan Publik

Profesi akuntan publik bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan, sehingga masyarakat memperoleh informasi keuangan yang andal sebagai dasar pengambilan keputusan.

Guna menunjang profesionalismenya sebagai akuntan publik maka auditor dalam melaksanakan tugas auditnya harus berpedoman pada standar audit yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yakni standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.

Di mana standar umum merupakan cerminan kualitas pribadi yang harus dimiliki oleh seorang auditor yang mengharuskan auditor untuk memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup dalam melaksanakan prosedur audit.

Sedangkan standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan mengatur auditor dalam hal pengumpulan data dan kegiatan lainnya yang dilaksanakan selama melakukan audit serta mewajibkan auditor untuk menyusun suatu laporan atas laporan keuangan yang diauditnya secara keseluruhan.

Laporan Auditor

Laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya, atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat.

Baik dalam hal auditor menyatakan pendapat maupun menyatakan tidak memberikan pendapat, ia harus menyatakan apakah auditnya telah dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang telah ditetapkan Institut Akuntan Publik Indonesia.

Berdasarkan prinsip etika profesi yang dirangkaikan pada kode etik Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebelum 1 Januari 2011 adalah 8 prinsip yang harus dipatuhi akuntan publik yaitu tanggung jawab profesi, kepentingan publik, integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis.

Seorang auditor harus memiliki sikap profesionalisme, dan juga harus memegang teguh etika profesi yang telah ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran dalam proses audit.

Hal ini tentu menjadi isu yang menarik untuk dibahas mengingat banyaknya kasus pelanggaran etika yang dilakukan oleh para akuntan.

Namun selain standar audit, akuntan publik juga harus mematuhi kode etik profesi yang mengatur perilaku akuntan publik dalam menjalankan praktik profesinya baik dengan sesama anggota maupun dengan masyarakat umum.

Kode etik ini mengatur tentang tanggung jawab profesi, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku profesional serta standar teknis bagi seorang auditor dalam menjalankan profesinya.

Berbagai fenomena-fenomena skandal akuntansi keuangan tersebut, kualitas audit yang dihasilkan oleh akuntan publik juga tengah menjadi sorotan dari masyarakat umum, seperti kasus yang ditulis oleh Fuad dalam situs Hukum Online.com pada tanggal 10 Januari 2007.

Kasus yang menimpa Akuntan Publik (AP) Justinus Aditya Sidharta pada tahun 2006 yang diindikasikan melakukan kesalahan dalam mengaudit laporan keuangan PT. Great River International, Tbk.

Pada kasus tersebut AP Justinus Aditya Sidharta melakukan konspirasi dengan kliennya untuk menggelembungkan account penjualan, piutang, dan asset lainnya hingga ratusan milyar rupiah.

Oleh karenanya Menteri Keuangan Republik Indonesia terhitung sejak tanggal 28 Nopember 2006 telah membekukan izin praktik bagi Akuntan Publik Justinus Aditya Sidaharta selama dua tahun karena telah melanggar Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP).

Pembekuan izin oleh Menkeu ini merupakan tindak lanjut atas Surat Keputusan Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik (BPPAP) Nomor 002/VI/SK-BPPAP/VI/2006 tanggal 15 Juni 2006 yang membekukan Justinus dari keanggotaan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP).

Fenomena ini hanya satu dari beberapa Akuntan Publik yang terbukti telah melanggar SPAP, masih banyak lagi kasus pelanggaran pada akhir-akhir ini yang dilakukan oleh akuntan publik.

Dalam kasus tersebut dapat dipahami bahwa auditor tidak menggunakan prinsip etika profesi Ikatan Akuntan Indonesia pada prinsip kedua tentang kepentingan publik bahwa setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

Dalam prinsip tersebut sikap profesionalisme auditor akuntan publik masih diragukan realisasinya. Selain itu terkait prinsip ketiga dan keempat tentang integritas dan juga objektivitas merupakan hal yang dilanggar dalam kasus tersebut. hal ini menjadi pertanyaan publik apakah auditor mempunyai pengalaman kerja yang mumpuni atau tidak.

Auditor yang tidak berpengalaman akan melakukan kesalahan yang lebih banyak dibanding dengan auditor yang berpengalaman.

Maka dari itu, seorang akuntan publik dituntut untuk bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya yaitu memegang prinsip-prinsip profesi yang telah ditetapkan. Maka dari itu, segala bentuk tekanan dan intervensi dari klien hendaknya dijadikan sebagai sebuah tantangan dalam kaitannya dengan pekerjaan sebagai akuntan publik.

Profesionalisme menjadi syarat utama bagi seorang akuntan publik, karena dengan profesionalisme yang tinggi kebebasan akuntan publik akan semakin terjamin yang berarti bebas dari tekanan berbagai pihak.

Seorang akuntan publik dikatakan profesional, bila dalam melaksanakan pemeriksaan ia menghasilkan audit yang memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh organisasi dan sesuai dengan kode etik atau standar profesi. Dalam hal ini akuntan publik yang profesional mampu menghasilkan audit yang berkualitas.

Semoga artikel diatas bermanfaat.  Jangan ragu untuk share ke sosial media Anda agar teman Anda juga mendapatkan manfaatnya. Ingat ya , banyak berbagi banyak rejeki hehe. Salam Let’s #beefree

Sebarkan manfaatnya :