Tarif, Pengertian, Beserta Perbedaanya Pajak PPh 29 dan PPh 25

Tarif, Pengertian, Beserta Perbedaanya Pajak PPh 29 dan PPh 25-gambar

Pengertian PPh 29 dan PPh 25

Pajak PPh Pasal 29 adalah bagian dari rangkaian sejumlah pajak penghasilan yang harus dibayarkan. Dan PPh pasal 29, terjadi apabila pajak yang terutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih besar dari pada kredit pajak,maka kekurangan pajak yang terhutang harus dilunasi sebelum surat pemberitahuan Tahunan disampaikan.

Sedangkan Pajak PPh 25 adalah pajak yang dikenakan untuk orang pribadi, perusahaan atau badan hukum lainnya atas penghasilan yang didapat. 

Tarif PPh Pasal 29

  1. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WPOP-PT) :
    • PPh 25 yang sudah dilunasi = 0.75 x jumlah penghasilan / omzet per bulan.
    • PPh 29 yang harus dilunasi = PPh yang masih terutang – PPh 25 yang sudah dilunasi.
  2. Wajib Pajak Badan (WPB) :
    • Angsuran PPh 25 = PPh terutang tahun lalu x 12.
    • PPh 29 yang harus dilunasi = PPh yang terutang angsuran PPh 25.

atau gampangan Anda bisa lihat bagan dibawah ini;

Penghasilan Kotor/ Bruto  Tarif Pajak                                                 
Kurang dari Rp4.8 Miliar 1% x Penghasilan Kotor (Peredaran Bruto)
Lebih dari Rp4.8 Miliar s/d Rp50 Miliar {0.25 – (0.6 Miliar/Penghasilan Kotor)} x PKP
Lebih dari Rp50 Miliar 25% x PKP

Perbedaanya PPh 25 dan PPh 29

Apa bedanya PPh 25 dengan PPh 29?

Mereka berdua serupa tapi tidak sama. Serupanya, karena keduanya sama-sama PPh Badan, pajak atas laba perusahaan. Dan tidak samanya, akan saya jelaskan detail berikut ini ;

Di dalam praktiknya, PPh badan bisa dicicil selama periode pajak tahun berjalan. Tujuannya sederhana : bagi wajib pajak, cicilan itu dapat meringankan beban pajak di akhir tahun sedangkan bagi pemerintah sendiri dengan adanya cicilan itu akan mempercepat uang masuk ke kas negara.

Lantas bagaimana cara mencicilnya? Nilai PPh Badan tahun lalu /sebelumnya dijadikan dasar, kemudian dibagi 12 bulan dari situ bisa ditemukan berapa nominal besaran rupiah yang harus dicicil setiap bulan. 

Contohnya: Sekarang tahun 2018. Diketahui, PPh badan tahun 2017 yang lalu senilai Rp 24 juta (laba kena pajak 2017 dikalikan 25%). 

Nilai Rp 24 juta itu kemudian dijadikan dasar untuk mencicil PPh Badan 2018. Caranya dibagi 12 bulan lalu dicicil setiap bulan. Yang berarti Rp 2 juta setiap bulannya.

Secara akuntansi, cicilan itu dijurnal sebagai berikut:

Uang Muka PPh Badan    Rp 2.000.000
    Bank                                  Rp 2.000.000

Jurnal itu dilakukan setiap bulan sehingga ledger Uang Muka PPh Badan pada akhir tahun 2018 nanti bersaldo Rp 24 juta.

Tibalah pada akhir tahun. Setelah dihitung PPh Badan 2018 rill, ternyata ditemukan nilai Rp 27 juta (laba kena pajak 2018 dikalikan 25%).

PPh Badan yang perlu dibayar sisa Rp 3 juta karena yang Rp 24 juta sudah dibayar sebelumnya. Maka jurnalnya menjadi sebagai berikut:

PPh Badan                       Rp 27.000.000
    Uang Muka PPh Badan    Rp 24.000.000
    Bank                                Rp 3.000.000

Mekanisme cicilan senilai Rp 24 juta, itulah PPh 25. Makanya pembayarannya dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) PPh 25. 

Hitungan riil pajak senilai Rp 27 juta dan pembayaran senilai Rp 3 juta, itulah PPh 29. Makanya pembayarannya dilakukan dengan menggunakan SSP PPh 29.

Kesimpulan :

  1. PPh 25:
    Kata Kunci nya ANGSURAN
    PPh 25 merupakan angsuran pajak yang dibayarkan setiap bulan untuk tahun pajak yang bersangkutan
  2. PPh 29:
    Kata Kuncinya PELUNASAN
    PPh 29 merupakan kekurangan pajak yang terutang pada akhir tahun pajak 

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Jangan lupa share disosial media Anda agar Anda mendapatkan manfaatnya. Karena sebaik–baik nya ilmu adalah berbagi.

Salam Let’s #beefree

Sebarkan manfaatnya :